Pemberantasan Pungli Terkesan Pencitraan dan Hanya Birokrasi Menengah Kebawah,

Sunday, February 3, 2013

KONFLIK PALESTINA – ISRAEL


SEJARAH KONFLIK PALESTINA – ISRAEL

Konflik antara Palestina dan Israel merupakan sebuah fenomena modern yang sudah mulai pecah sejak abad XX. Meskipun kedua pihak yang bertikai berbeda agama, namun perbedaan agama itu bukan menjadi penyebab konflik. Pada dasarnya, konflik di kawasan itu adalah menyangkut soal wilayah, soal tanah. Kaum Yahudi selalu mengklaim tanah yang sekarang diperebutkan ini berdasarkan pada janji yang ada dalam kitab suci kepada Abraham dan para keturunannya. Padahal, kalau Arab mengajukan argumen-argumen biblis, mereka juga adalah keturunan Abraham. Oleh karena itu, mereka berhak pula atas tanah tersebut.

Sejarah memaparkan, sekitar 3000 tahun sebelum Masehi (SM), apa yang sekarang disebut tanah Palestina itu pada awalnya hanya dikenal sebagai tanah Kanaan. Disebut demikian karena suku Kanaan merupakan suku yang paling dominan di wilayah itu. Dominasi itu sedikit berkurang ketika antara tahun 1900 sampai 1700 SM, wilayah Kanaan itu mulai dimasuki kaum imigran Semit dari wilayah Mesopotamia (kini Irak). Di Kanaan itu, para imigran itu kemudian dikenal sebagai kelompok Ivrim (=Hibrani), yang artinya “keturunan Ever” nenek moyang Abraham. Baru kemudian, mungkin guna meningkatkan harga diri mereka, kaum Ivrim itu menyebut diri mereka Israel, yang artinya kurang lebih adalah “dia yang sudah bergulat melawan Tuhan”.

Diperkirakan, Hyksos, keturunan Semit dari Suriah, sekitar tahun 1650 SM menguasai delta sungai Nil dan mendesak raja pribumi Mesir, Thebes, ke pedalaman. Namun, sekitar tahun 1570 SM, sebuah revolusi kaum pribumi di bawah pimpinan keturunan Thebes berhasil menjatuhkan kekuasaan nonpribumi Hyksos. Sejarah kaum nonpri Semit di Mesir menjadi sejarah penderitaan. Puncaknya terjadi di zaman militerisme Fir’aun Rameses II (1220-1165). Akhirnya muncullah sebutan “apiru” atau kaum pengungsi-gelandangan bagi kelompok Israel itu. Ungkapan “apiru” itu dianggap sebagai asal usul nama Hibrani. Musa, salah seorang pemimpin apiru Semit itu, kemudian menjadi penyelamat dengan membawa para nonpri itu pulang ke tanah semula di Kanaan, yang diyakini sebagai “Tanah Terjanji”. Diperkirakan, mereka kembali ke Kanaan sekitar tahun 1200 SM.
Bersamaan dengan masuknya “apiru” ke Kanaan itu, datang pula sebuah invasi besar dari “bangsa-bangsa laut”. Diperkirakan mereka berasal dari Pulau Kreta di Laut Tengah. Ada empat suku di antara “bangsa-bangsa laut” itu, yaitu suku Filistin, suku Edom, suku Moab, dan suku Ammon. Kaum Filistin segera menduduki wilayah pantai barat daya Kanaan, yang kini dikenal dengan Jalur Gaza. Karena wilayah pantai dikuasai oleh suku laut Filistin, maka para penguasa Yunani kemudian menyebut seluruh wilayah di “belakang” nya sebagai Palaistina, yang merupakan sebuah lafal Yunani dari kata Hibrani Pleshet (Tanah Suku Filistin). Sebutan itu dipakai juga oleh penguasa Romawi yang menggantikan Yunani, dan bahkan dihidupkan kembali sesudah Perang Dunia I guna menyebut wilayah bekas Kanaan itu.

 Hingga tahun 1948, wilayah yang diklaim oleh kedua belah pihak (Palestina dan Israel), secara internasional dikenal sebagai Palestina. Akan tetapi, setelah pecah perang tahun 1948-1949, wilayah itu dibagi menjadi tiga bagian: negara Israel, Tepi Barat, dan Jalur Gaza. Sejak itu perang terus terjadi. Keinginan untuk saling mengalahkan dan menghancurkan mulai memuncak sejak awal abad ke-20. Gerakan Zionisme telah menggerakkan orang-orang Yahudi kembali ke tanah Palestina. Semula kaum Zionis membeli tanah milik Arab-Palestina dan membentuk kantung-kantung permukiman.

Akan tetapi, lama kelamaan, gerakan Zionisme memperlihatkan watak imperialis dan rasis. Apalagi telah berkembang doktrin, setiap orang Yahudi harus mendapat hak atas tanah, sekurang-kurangnya tempat membaringkan kepala (rumah tinggal), di tanah Terjanji, Lokasi tanah Terjanji dipersepsikan Israel terletak di tanah Palestina dan sekitarnya. Arus migrasi kaum Zionis yang begitu besar, telah melahirkan semangat ekspansionisme seperti terlihat pada kasus pendudukan Tepi Barat, Jalur Gaza, Dataran Tinggi Golan, dan sempat juga Sinai. Kehadiran kaum Zionis yang begitu besar, mengakibatkan masyarakat Arab-Palestina terdesak.
Seiring dengan perluasan penguasaan tanah oleh kaum Zionis, timbul kesadaran dan sikap dikalangan masyarakat Arab-Palestina bahwa Israel tidak mempunyai hak atas wilayah Tanah Palestina. Meski agak terlambat, masyarakat Arab-Palestina bertekad keras membendung ekspansi wialayah kaum Zionis. Tekanan dan penolakan yang begitu keras masyarakat Arab-Palestina, membuat Israel dan penjajah Inggris menjadi cemas mendalam. Inggris bahkan sempat membujuk dan menawarkan kepada kaum Zionis untuk membangun negara Yahudi di Afrika Selatan, yang kebetulan juga koloni Inggris. Tetapi, tawaran itu ditolak.

Dengan demikian, tidak bisa lain, kaum Zionis harus berhadapan dengan gerakan penolakan Arab-Palestina. Timbul semacam perasaan ternacam di kalangan kaum Zionis, jika sampai dikalahkan, pasti bangsa Yahudi akan dilempar ke laut. Keyakinan itu terus-menerus ditiup-tiupkan, yang melahirkan watak keganasan dan kekejaman di kalangan bangsa Yahudi di negara Israel.Semangat permusuhan terus berkobar karena Israel menghalang-halangi pendirian negara Palestina Merdeka. Wilayah Tepi Barat dan Jalur Gaza yang merupakan tanah air bangsa Palestina diduduki sejak tahun 1967. Sedangkan Israel sendiri sudah memproklamirkan negara merdeka tahun 1948.
Selama hak Palestina sebagai sebuah bangsa tidak ditegakkan, dipastikan tidak akan ada perdamaian, ketenteraman, dan keamanan di Timur Tengah. Sudah terbukti, tidak ada satu pun kekuatan yang mampu membungkam dan melenyapkan aspirasi perjuangan bangsa Palestina, meski Israel sudah berusaha menghancurkannya.

Berbagai kalangan mencemaskan situasi Timur Tengah menjadi runyam, jika kekerasan terus mengalamai eskalasi. Presiden Palestina Yasser Arafat sendiri dan para pengawalnya memilik bertahan dan siap mati di dalam markas di Ramallah, yang terus dihujani gempuran mortir pasukan Israel. Arafat sebagai kepala negara benar-benar dipermalukan oleh Israel. Sejak dua tahun lalu, Arafat dikenai tahanan kota di Ramallah karena dianggap gagal menghentikan gerakan intifadah dan aksi jibaku, yang dilakukan warga Palestina. Kezaliman Israel itu justru menimbulkan simpati orang terhadap Arafat dan perjuangannya. Sebaliknya Israel dikecam dan dicerca karena memperlihatkan keangkuhan terhadap masyarakat Palestina, yang sesungguhnya sudah tidak berdaya. Meski pertikaian kadang-kadang berlangsung tidak seimbang, tapi semakin kelihatan pula Israel menjadi panik dan frustrasi atas perlawanan bangsa Palestina yang pantang kendur.
Sudah menjadi pola, setiap serangan Israel akan mendapat pembalasan  Palestina, dan sebaliknya. Kekerasan  di Timur Tengah sangat bersifat dialektis  dan siklis. Kekerasan menghasilkan kekerasan, sehingga mata rantai kekerasan bertambah dari waktu ke waktu. Israel benar-benar mulai kewalahan menghadapi metode jibaku yang dilancarkan warga Palestina. Sampai sekarang belum ditemukan cara efektif untuk mengantisipasi serangan bom bunuh diri warga Palestina. Aksi jibaku tidak lagi hanya dilakukan kaum pria, tapi mulai dilancarkan pula oleh kaum perempuan muda.
                Serangan bunuh diri jelas mengerikan. Tetapi, rasa putus asa yang mendalam, membuat rasa ngeri seolah menjadi nisbi. Warga Palestina menggunakan aksi jibaku sebagai senjata terakhir melawan keganasan Israel. Kaum muda Palestina tidak lagi menggunakan truk atau kendaraan lain untuk melancarkan serangan bunuh diri. Penggunaan kendaraan gampang dideteksi dan diantisipasi aparat Israel. Maka belakangan ini, kaum muda Palestina cenderung “memasang badan” dengan menggendong bahan peledak. Satu serangan jibaku bisa menewaskan puluhan orang. Secara matematis, satu warga Palestina yang tewas melakukan jibaku akan menewaskan sedikitnya satu warga Israel. Jika gelombang aksi jibaku mengganas, warga Israel secara sistematis akan terus berkurang. Namun, akan sampai kapan aksi jibaku ini berlangsung? Wallahu’alam.***

Sumber:
Suara Muhammadiyah
Edisi 17 2004

0 comments:

Post a Comment